Akankah SBY Menceraikan PKS dari Poligami Koalisi…?

Koalisi partai yang dibangun oleh Presiden SBY dengan partai partai guna mendukung kepemimpinan pemerintahannya ibarat sebuah perkawinan dengan bermodal komitmen membangun kesejateraan bersama bagi keluarga, yaitu anggota keluarga partai koalisi.

Ada beberapa keimanan yang tidak mengijinkan perceraian, hanya Tuhan yang berhak menceraikan. Ada pula beberapa keimanan memberikan pintu perceraian walaupun itu merupakan tindakan yang dibenci Tuhannya. Baca lebih lanjut

Iklan

Pak Bach

Demikian saya memanggil beliau, Bapak Bachrudin Nasori salah satu penasehat / pembina Persatuan Perangkat Desa Indonesia yang sekarang menjadi anggota DPR RI komisi III dari Partai Kebangkitan Bangsa ( PKB).

Sekdes Senayan

Atas kegighannya memperjuangkan sekdes agar secepatnya di PNS kan sesuai amanat UU 32 / 2004, maka pak Bach sering disebut sebagai sekdes senayan. Kegigihan beliau memperjuangkan desa tidak perlu lagi dipertanyakan, mendampingi sekdes, mendapingi parade nusantara adalah bagian dari kerja politik yang telah beliau lakukan.

Pembangunan harus dimulai dari desa, begitu beliau pernah bercerita pada saya, dan kamipun sering telibat diskusi dalam hal perdesaan.

Mendampingi PPDI beliau lebih dulu

Saya mulai ikut terlibat dalam pendampingan PPDI, bermula dari permintaan sekjen PPDI mas Mugi dan kemudian dipertemukan dengan pak Bach.

Saat bertemu pak Bach di PPDI pertama kali, beliau langsung sampaikan “ ya sudah, cocok kalo PPDI ajak Suryokoco, dia kawan lama saya dan saya tahu bagaimana dia bekerja”. Sungguh sebuah sanjungan yang luar biasa sekaligus menjadi tanggungjawab yang besar bagi saya untuk memberikan perhatian yang maksimal untuk perjuangan PPDI.

Pertemuan pertama saat itu adalah selesai aksi bulan februari 2010, dan atas kesepakatan beliau saya lebih intens untuk mendampingi PPDI.

Bukan orang baru

Bagi saya, Pak Bach bukanlah orang baru dalam gerakan masyarakat desa. Saat saya menjadi sekretaris eksekutif Persatuan Perangkat Desa Nusantara di awal tahun 2006, beliaulah salah satu anggota DPR RI yang sangat intens berkomunikasi dan mendukung gerakan. “sekdes PNS adalah awalah, perangkat desa lain di PNS kan adalah sasaran berikutnya” demikian beliau pernah sampaikan kepada saya.

Perkenalan saya dengan pak Bach adalah dari kades Tegal kang Basir, yang saat itu membawa pak Bach dalam aksi februari 2006.

Saya sempat mempermasalahkan mengapa pak Bach mendukung sekdes PNS, ini akan menjadi petaka lanjutan. Beliau sampaikan, “itu adalah amanat UU 32/2004, jadi kita dorong saja untuk secepatnya di realisasikan, untuk perangkat desa lain di PNS kan, saya siap ikut mendukung “

Mengajak bergabung PKB

Ajakan bergabung dalam PKB pernah disampaikan pak Bach pada saya saat partai baru yang saya ikut terlibat dipercaya pak Bach tidak lolos, ditambah saya juga sudah bukan sekjen lagi. Sayang kamu punya potensi, gabung aja ke PKB demikian kata pak Bach pada saya saat itu.

Saya sampaikan kalo bukan dengan partai saya ini, saya tidak akan berpartai di tahun 2009 jawab saya. Pak Bach kembali mengingatkan untuk memikirkan kembali, loyalitas pada partai boleh, tapi kalo mereka sudah tidak menghargai buat apa harus tetap bertahan. Bagi saya, konsistensi dan komitmen adalah sesuatu yang harus saya pegang, meski harga mahal yang harus saya bayar.

Tudingan di MUNAS PPDI

Pak Bach punya gaya politisi sejati, pengguna panggung yang baik. Saat mendengar masih ada dua fraksi partai di DPR RI belum memberikan dukungan pada PPDI, maka dengan lincahnya beliau menuding saya harus bertanggung jawab untuk mendapatkan dukungan dari Demokrat. ”Suryokoco ini orang Demokrat, dia harus bertanggunjawab. Kalo demokrat memberikan dukungan, 2014 harus digembosi” demikian lontaran bola panas pak Bach pada saya, saat Musyawarah Nasional Persatuan Perangkat Desa Indonesia ( MUNAS PPDI )  23 januari di Baturaden.

Saya menerima bola panas pak Bach sebagai sebuah pemicu untuk saya lebih keras dan cerdas mendapatkan dukungan dari Demokrat, meski saya bukan pengurus harian Demokrat, bukan anggota DPR RI dari Demokrat, tapi memang benar saya adalah Demokrat sejak 2010 lalu.

Terimakasih Pak Bach

Tidak adal yang lebih indah kado dari sahabat kecuali teguran dan peringatan yang membaikkan. Saya berharap, dukungan dari Demokrat dapat secepatnya saya dapatkan untuk PPDI.

Terimakasih pak Bach, Bapak adalah guru tempat belajat, teman dalam perjuangan desa.

Lidah Wajah dan Tingkah

Dalam pelajaran manajemen kepepimpinan jawa dikenal istilah ”jinaganing ilat, ulat, ulah mrih tansah asah, asih lan asuh”. Dalam terjemahan bebas bahasa Indonesia istilah tersebut mungkin bermakna lidah, wajah dan tingkah yang harus selalu diperhatikan dan dijaga oleh seorang pemimpin untuk selalu mampu mencerdaskan, mensejahterakan dan melindungi. Baca lebih lanjut

PPDI adalah sang Pemanah

Pada suatu ketika, hiduplah seorang bijak memiliki tiga murid yang setia dan mahir memanah. Sang bijak ini memamngah mengajarkan memanah pada ketika muridnya, ketiganya amatlah tekun menerima setiap pelajaran yang diberikan padanya. Mereka semua sangat patuh, dan menjadi 3 orang pemanah yang ulung. Suatu ketika tibalah saat ujian bagi ketiganya.

Pada sebuah pohon besar dengan latar belakang gunung yang indah, adalah tempat yang menjadi pilihan sang guru. Sebuah burung kayu diletakkan pada cabang pohon tersebut. Setelah mengambil jarak berkatalah sang guru, “Muridku, lihatlah ke arah gunung itu, apa yang akan kau bidik …”

Murid pertama maju ke depan mempersiapkan busur dan anak panah. Dengan lantang, ia menjawab, “Aku melihat sebuah batang pohon. Itulah sasaran bidikanku.” Sang guru tersenyum dan memberikan tanda agar murid itu menunda bidikannya.

Kemudian murid keduapun melangkah mendekat. ” Aku melihat sebuah burung. Itulah sasaran bidikanku. Biarkan aku memanahnya Guru,” seru murid itu. Sang guru kembali tersenyum dan mengisyaratkan tanda agar jangan memanah dulu.

Ia kemudian bertanya kepada murid yang ketiga. “Apa yang kau lihat ke arah gunung itu?” Murid ketiga terdiam. Ia mengambil sebuah anak panah. Direntangkannya tali busur, dibidiknya ke arah pohon tadi. Tali-tali itu menegang kuat. “Aku hanya melihat bola mata seekor burung-burungan kayu. Itulah bidikanku. ” Diturunkannya busur itu. Tali-tali panah tak lagi meregang. Sang Guru kembali tersenyum, namun kali ini, dengan rasa bangga yang penuh.

“Murid – muridku, sejujurnya, kalian semua layak untuk lulus ujian ini. Namun, ada satu hal yang perlu kalian ingat dalam memanah. Fokus. Sekali lagi, fokus. Tentukan bidikan kalian dengan cermat. Tujuan yang jelas, akan selalu meniadakan hal-hal yang menjadi penganggunya.”

Ia kembali melanjutkan, “Sebuah keberhasilan bidikan, akan ditentukan dari tingkat kesulitan yang dihadapinya. Sebuah pohon besar dan burung, tentu adalah sasaran yang paling mudah untuk didapat. Namun, bisa mendapatkan bidikan pada bola mata burung-burungan kayu, itulah yang perlu kalian terus latih.”

* * * * *

Dalam penggalan cerita diatas jelas bahwa diajarkan untuk kita fokus atau ”hanya tertuju pada satu sasaran” untuk kita sukses dalam sesuatu hal. Dengan fokus maka kita akan mendapatkan ”ketiadaan gangguan”, karena dengan hanya tertuju pada satu tujuan, maka hal hal lain di luar tujuan jelas tidak akan diperdulikan.

Memang, selalu ada banyak godaan-godaan pilihan yang dapat diperoleh saat kita mengarah pada tujuan, namun dengan ”kejelasan dan kesatuan” tujuan, maka penawaran dan pilihan perubahan tujuan akan menjadi tidak menarik.

Dari hal tersebut, sungguh penghargaan yang setinggi tingginya pada perwakilan PPDI yang diterima oleh menteri pada 13 desember 2010 lalu. Beberapa penawaran menarik yang ”mengalihkan tujuan” telah ditawarkan langsung oleh Mendagri, Bapak Gamawan Fauzi pada saat tersebut. Penawaran tersebut adalah :

  1. Jaminan kesejahteraan perangkat desa dengan nilai sama dengan Sekretaris Desa
  2. Penarikan Sekretaris Desa yang telah PNS menjadi staff kecamatan, dan sekdes diisi dengan aturan yang sama dengan perangkat desa, sehingga status Sekretaris Desa dan Perangkat Desa menjadi sama

Kedua penawaran langsung oleh pengambil kebijakan di tingkat pusat ini dengan jelas dan tegas ditolak, karena yang diharapkan PPDI adalah kesamaan status dengan Sekretaris Desa dan bukan ”menyakiti” saudaranya sekretaris desa.

Satu peristiwa yang luar biasa yang saya saksikan dari keteguhan perjuangan seorang perangkat desa, Selamat berjuang PPDI dan teruslah konsisten dan komitmen pada tujuan awal, jangan mudah berubah dan lelah memperjuangkan dengan alasan apapun.

Terimakasih telah memberikan pelajaran ”sebuah keteguhan perjuangan” bagi saya, dan semoga bisa menjadi bahan pelajaran untuk semua.

Bunda

Bagai bunga harum mewangi..
Mekar setaman bersama matahari..
Berdahankan keyakinan, berkelopakan budi..
Titian bangsa harapan berseri..
Engkaulah panutan bagi setiap generasi..
Lantunan doa tiada terhenti..

Bunda…….
Karena bunda, sungai kasih sayang menelusuri muaranya..
Karena bunda, setiap hela nafas benam dalam damainya..
Karena bunda, matahari kecerdasan mencapai pencerahannya..
Karena bunda, bumi keindahan menjaga langitnya..
Karena bunda, bunga harapan memancar harumnya..
Karena bunda, setiap kata menemu maknanya ..

( Terimakasih sahabatku… untuk kata-kata indahmu  )

Kang Ubed

Saya kenal Ubaedi Rosidi belum genap satu tahun. Dalam perjalanan mendampingi Persatuan Perangkat Desa Indonesia (PPDI) sebagai salah seorang penasehat, saya menjadi lebih mengenal Ubaedi Rosidi (kang Ubed) sebagai ketua umum satu satunya  Organisasi Perangkat Desa Tingkat Nasional.

Atas dasar semangat anti diskriminasi, saya mendampingi perjuangan PPDI, dan berharap mampu ikut menjadikan PPDI sebagai organisasi profesi perangkat desa yang modern adalah mimpi lain yang selalu menjadi penunjuk nasehat saya untuk PPDI.

Kocak, jegegesan

Pertama bertemu, saya berpikir “bocah kok ra mitayani”, mampukah saya mendampingi dia untuk membawa sukses perjuangan besar PPDI, itulah pertama yang terlintas dalam benak saya.

Wajah yang selalu senyum seperti tanpa dosa yang dimiliki kang Ubed ternyata cukup membuat saya percaya bahwa PPDI dapat maju dan berkembang menjadi organisasi yang besar, dibawah kepemimpinan kang Ubed.

Gaya kocak dan tidak serius ternyata tidak terbawa dalam mengambil keputusan organisasi. Sikap terbuka untuk menerima masukan, kritikan bahkan sentilan adalah modal dasar yang cukup besar untuk menjadikan kang Ubed sebagai figur sentral dalam organisasi.

Harus siap menjadi orang besar

Adalah nasehat pertama yang saya berikan untuk kang Ubed, karena saya meyakin PPDI akan menjadi organisasi besar dan diperhitungkan di tanah air. Eksklusifitas PPDI sebagai organisasi perangkat desa harus dikedepankan, karena dengan eksklusifitas inilah PPDI akan diperhitungkan bukan sekedar dihitung.

Siap mas, demikian kang Ubed pernah sampaikan ke saya. Meski dalam beberapa hal atau peristiwa sempat agak bimbang tentang menjadi orang besar, namun dalam perjalanannya, kang Ubed mampu menunjukkan dia layak menjadi orang besar.

Tidak ada organisasi besar yang tantangan dan hambatannya kecil, oleh karenanya setiap masalah harus diselesaikan dengan baik dan cepat agar kita bisa naik tingkat.

Kuat karena orang sekitar yang hebat.

Keberadaan kang Ubed yang harus mengemban tugas berat memperjuangkan perangkat desa jelas tidak mungkin mampu dilakukan bila tidak ada orang orang yang hebat disekitarnya. Orang disekitar kang ubed adalah orang orang yang hebat dan mampu beraksi dan bereaksi dengan baik atas gagasan dan perkembangan peristiwa. Ada yang siap melakukan tugas dengan cepat tanpa banyak bertanya, ada yang pandai berdialog dan berpendapat, ada yang pandai mengemas informasi, ada yang rapi menata adminstrasi dan ada banyak partisipasi lain yang diberikan oleh  orang orang disekitar kang Ubed. Semua itu adalah sumber kekuatan kang Ubed untuk melangkah.

Cakap berorasi, Cantik berdiplomasi

Dengan kematangan berorganisasi, kang Ubed adalah sosok yang cakap dalam berorasi. Mampu menyampaikan informasi dengan cara yang menarik dan selalu up to date buka sekedar pengulangan penyampaian yang menjemukan. Logat Tegal sangat membantu untuk menjadikan daya tarik orang memperhatikan karena uniknya dialeg.

Menghadapi sosok se kelas menteri pun kang Ubed mampu menunjukkan dialah pemimpinnya. Sukses meyakinkan para bupati dan ketua DPRD untuk mendukung PPDI dan atau memperhatikan perangkat desa sudah tidak terhitung lagi telah banyak dilakukan oleh kang Ubed.

Bahasa pasal UU, Peraturan Pemerintah dan surat surat  Pemerintah pun demikian fasih disampaikan oleh kang Ubed. Sungguh sosok yang layak dibanggakan untuk seorang Perangkat Desa.

Tenang dalam kekalutan

Ketika aksi 13 desember 2010 lalu, nampak jelas dari raut muka bahwa ada kekalutan dalam hati kang Ubed, dan hebatnya tetap mampu tenang dan menenangkan diri. Informasi yang simpang siur dari beberapa tokoh politik yang siap memfasilitasi bertemu dengan Mendagri, Orasi yang provokatif, ide ide nakal yang terlontar dari lingkungan, mampu ditangani dengan baik oleh kang Ubed pada saat itu.

Meski ada keraguan  atas kesuksesan aksi, kang ubed mampu bersikap bijak utuk tidak menampakkan di hadapan para anggotanhya.

Ujian telah dilalui, menunggu apresiasi

Beberapa ujian telah dilalui kang Ubed dengan baik, kini saatnya menunggu apresiasi dari anggota dan pengambil kebijakan.

Apresiasi dari anggota PPDI adalah dalam bentuk dukungan setiap kebijakan PPDI dan juga kepercayaan atas kepemimpinan kang Ubed.

Apresiasi dari pengambil kebijakan adalah dalam bentuk dibuktikannya dukungan tertulis yang telah mereka buat untuk benar benar dilaksanakan dan diperjuangkan.

Kepada segenap jajaran pengurus PPDI baik Pusat Propinsi maupun Kabupaten, kang Ubed adalah asset luar biasa untuk PPDI, jaga dan kuatkanlah dia. Perkuat konsolidasi, perbanyak silaturahmi antar anggota untuk membangun soliditas dan loyalitas anggota pada PPDI.

Terus berjuang kang Ubed, jangan pernah lelah. Untuk mencapai cita cita besar demi orang banyak , karena tidak mungkin hanya ujian kecil yang harus dihadapi untuk perjuangan yang besar.