Pancasila Mati Pasca Reformasi


Produk akhir dalam proses reformasi 1998 adalah semakin carut marutnya tata pemerintahan Indonesia. Amandemen UUD menjadi pintu masuk membuat hancurnya bangunan pemerintah Negara Indonesia sesuai semagat Proklamasi 17 agustus 1945.

Semangat awal rakyat dengan adanya reformasi adalah semakin sejahteranya masyarakat dan bangsa Indonesia, ternyata tidak menunjukkan indikasinya kecuali semakin liberalnya system demokrasi dan ekonomi Indonesia. Sejarah kebangsaan Indonesia adalah :

  • Berdirinya Budi Utomo pada tanggal 20 Mei 1908, dimana tujuan yang hendak diwujudkan adalah “Indonesia Merdeka”.
  • Sumpah Pemuda 28 oktober 1928 menyebutkan ”Pertama. Kami Poetera Dan Poeteri Indonesia Mengakoe Bertoempah-Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia. Kedoea. Kami Poetera Dan Poeteri Indonesia Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia. Ketiga. Kami Poetera Dan Poeteri Indonesia Mendjoendjoeng Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia.”. Bahkan lagu kebangsaan Indonesia Raya dikumandangkan menandakan kelahiran pergerakan nasionalisme seluruh nusantara untuk Indonesia Merdeka.
  • Dalam sidang BPUPKI 1 juni 1945 dirumuskannya dasar negara Indonesia yaitu Pancasila.
  • Proklamasi 17 agustus 1945, pernyataan Kemerdekaan sebuah negara kebangsaan yang bernama Indonesia.
  • 18 Agustus 1945 ditetapkanlah Konstitusi Indonesia yaitu UUD 1945 dan pengangkatan Presiden dan wakil Pesiden Pertama Pemerintah Republik Indonesia

Para pejuang bangsa  pasti sedang menangis disurga sana melihat kenyataan pahit Bangsa Indonesia. Beberapa peristiwa memurnikan perjuangan kebangsaan Indonesia untuk kembali ke Pancasila dan UUD 1945 ternyata semakin jauh dari harapan. Hal ini dapat dilihat dari :

  • Dekrit Presiden 5 Juli 1959 yang dikeluarkan oleh Presiden Soekarno  yang berisi pembubaran Badan Konstituante hasil Pemilu 1955 dan pengembalian undang-undang dasar dari UUD Sementara 1950 ke UUD ’45.
  • Surat Perintah 11 Maret 1966 yang dikeluarkan  oleh Presiden Soekarno   kepada Soeharto guna mengambil langkah yang dianggap perlu untuk mengatasi keadaan Negara, disinilah lahir Orde Baru yang bertekad melaksanakan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen. Pancasila dan UUD 1945 disosialisaikan kepada seluruh komponen bangsa melalui Badan Penyelenggara Pelaksanaan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (BP7). Bahkan sampai melahirkan Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia No. II/MPR/1978 tentang Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (Ekaprasetya Pancakarsa) dan Penetapan tentang Penegasan Pancasila sebagai Dasar Negara, karena ketakutan pemerintah menggunakan pancasila sebagai perlindungan kekuasaan.
  • 13 Nopember 1998 dikeluarkan Tap MPR NOMOR X/MPR/1998 tentang Pokok Pokok Reformasi Pembanguan Dalam Rangaka Penyelamanan Dan Normalisasi Kehidupan Nasional sebagai haluan Negara yang jelas dalam dalam Bab I Pendahuluan huruf D menyebutkan “Pokok Reformasi Pembangunan dalam Rangka Penyelamatan dan Normalisasi Kehidupan Nasional sebagai Haluan Negara disusun atas dasar landasan idiil Pancasila, landasan konstitusional Undang Undang Dasar 1945. Ini artiya juga sebenaranya adalah kembali ke Pancasila dan UUD 1945

Pancasila, sebagai sumber dari segala sumber hukum Bangsa Indonesia, akan berfungsi sebagai keyakinan standar Bangsa Indonesia.

Pacasila sebagai falsafah bangsa, Pancasila akan tumbuh menjadi sikap keberpihakan Bangsa Indonesia di dalam mencapai Keadilan Sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia yang dimaknai oleh tegaknya Kedaulatan Rakyat.

Ternyata dalam Aktualisasi di masa reformasi semakin jauh dari harapan bahkan kalo boleh dikatakan sudah di NISBI kan oleh kekuatan rezim perusak Bangsa Indonesia.

Oleh karena itu, hilangnya Pancasila di dalam kehidupan Bangsa Indonesia akan menyebabkan hilangnya Bangsa Indonesia dan hancurnya NKRI.Hari hari kita

“JAS MERAH”, jangan sekali-kali meninggalkan sejarah, demikian diucapkan Bung Karno dalam pidatonya yang terakhir pada HUT RI tanggal 17 Agustus 1966. JAS MERAH yang dikumandangkan Bung Karno agaknya terlupakan Majelis Rakyat kita.

Akhirnya hanya bisa disampaikan “Menangislah yang keras kau Bung Karno dan Pak Harto, Tertawalah yang keras kau jongos jongos perusak Indonesia”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s