Pemimpin Indonesia ke Depan Harus Memahami Cita-cita Proklamasi!


RMOL. Indonesia membutuhkan kepemimpinan nasional yang kuat secara politik, pemerintahan dan media. Dan hal yang lebih utama lagi, pemimpin tersebut harus memahami cita-cita Proklamasi 17 Agustus 1945 serta memiliki benang merah cita-cita para pendiri bangsa.

“Pemimpin Indonesia ke depan mutlak mengenal amanat penderitaan rakyat sebaik-baiknya. Tidak hanya sekedar di kenal atau populer karena digarap atau ditokohkan oleh lembaga pembentuk citra yang sarat dengan kepentingan komersial,” kata Dewan Pembina Aliansi Nasionalis Indonesia(Anindo), Hadidjojo Nitimihardjo, beberapa saat lalu (Jumat, 31/5).

Hadidjojo mengatakan bahwa Anindo, organisasi yang didirikan oleh ketua umunya Edwin Henawan Soekawati, mengiginkan partai-partai politik yang ada memiliki mekanisme rekrutmen yang bagus. Dengan partai yang bagus dan rekrutmen yang bagus dipastikan akan melahirkan elit-elit partai yang  bersih.

Anindo yakin, kata Hadidjojo,  pemerintahan akan berjalan dengan baik dan mendapat dukungan dari rakyat  jika taat hukum, anti korupsi dan efisien.

Sementara itu, Sekjen Anindo, Suryokoco Suryoputro, merasa prihatin karena cita-cita reformasi belum terwujud dan di saat yang sama banyak penyimpangan implementasi Pancasila dan UUD 1945. “Reformasi sudah 15 tahun, Pancasila 68 tahun, tetapi masih menghadapi berbagai kendala, baik secara politik, sosiologis dan kepemimpinan,” kata dia.

Menurutnya, kendala tersebut justru dikarenakan kepentingan golongan, kondisi kemiskinan dan keterbelakangan serta adanya intervensi kepentingan asing dalam hal ekonomi politik. “Karena itu sudah saatnya ada koreksi total yang multi kompleks sebagai  strategi agar penyelewengan dan penyimpangan terhadap Pancasila dan UUD 1945 tidak terulang kembali,” tegas Suryokoco.

Wakil Ketua Umum Anindo, Bob Randylawe, menambahkan keadaan bangsa Indonesia saat ini bukan semakin benar meski UUD 1945 sudah diamandemen berkali-kali. “Semakin ngawur, pemimpin-pemimpin yang ada seperti tidak paham dengan cita-cira Proklamasi dan cita-cita reformasi,” katanya.

Dia melihat eleminasi Pancasila dan UUD 1945 berjalan secara sistematis, konsisten dan by disign. Tujuan sederhananya mau merampas hasil bumi kita seperti di zaman kolonial dulu.

“Sekarang memang caranya lebih canggih, tapi tetap saja material yang dirampas sama, hasil bumi itu,” pungkasnya. [ysa]

[Rakyatmerdeka,  Jum’at, 31 Mei 2013 , 19:04:00 WIB, Laporan: Yayan Sopyani Al Hadi ]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s