GOLPUT itu kini Komersial


Dalam pemilihan langsung presiden dan juga legilatif proporsionla terbuka hasil reformasi , telah mengahasilkan gerakan gerakan yang cenderung mendorong lahirnya fragmatisme pemilih dalam pemilu.

Slogan “kami butuh bukti bukan janji” dalam sekilas kita mungkin kita berasumsi adanya kesadaran politik positif dari para pemilih. Kita boleh saja berasumsi ketika melihat slogan itu, diartikan masyarakat pemilih akan menilai dengan baik tentang rekam jejak sang tokoh dan kemudian menilai kinerja sebagai buktinya.

Dan adalah hal juga ketika pemahamannya adalah jadi berbeda 180 derajat, “Kalo anda menjajikan kesejahteraan kami, kami tidak butuh, kami butuh bukti anda sekarang memberikan janji mensejahterakan, kami butuh anda beri kesejahteraan (bantuan / uang) sekarang, bukan setelah anda jadi”

Slogan mari kita lawan kobobrokan politik dengan GOLPUT, ketika dipahami bahwa GOLPUT adalah Golongan Putih tidak memilih, mungkin kita bisa melihat sebuah perlawanan rakyat dengan rendahnya tingkat partisipasi masyarakat dalam politik.

Tapi adalah hak pemilih yang kemudian menjadi kewajaran dari proses pembelajaran kapitalistik ketika GOLPUT dimaknai sebagai “Golongan Pemungut Uang Tunai”. Jadi Golput kemudian berakhir dengan “no money no vote”, sungguh kita sedang menghambakan diri pada uang.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s