Selamat Hari Bhayangkara ke 67

Bhayangkara dalam bahasa sansekerta adalah penolong / pelindung..

Dalam Pembukaan UUD 1945 disebutkan bahawa tugas utama Pemerintah Negara Indonesia adalah melindungi segenap bangsa Indonesia..

Dan tugas itu ada dalam diri para Bhayangkara, selamat berbahagia, teruslah Bangga dan membanggakan Indonesia, untukmu para Bhayangkara..

Mari beri semangat para Bhayangkara…
Mari beri apresiasi dan pandangan positif pada para Bhayangkara…

Iklan

Diskriminasi… Sebuah keharusan…?

Dalam sebuah kata bijak disebutkan.. Perhiasan lelaki adalah kejujuran dan tanggung jawab.. Bukan emas atau permata… Itu artinya sejak dari dulu perhiasan perempuan adalah emas permata dan oleh karenanya perempuan boleh tidak jujur dan tidak bertanggung jawab….?

Dalam pepatah jawa disebut..”Wong wedhok iku gustialahe duwit, malaikete jarit”.. Yang terjemahan bebasnya .. “Perempuan itu selalu memuja uang dan pakaian”… Itu artinya hanya perempuan yang boleh materialistis…?

Dalam sebuah kesepakatan tidak tertulis disebut.. “Jangan percaya itu omongan perempuan”.. Artinya adalah sebuah kewajaran kalo perempuan itu berbohong…..?

Stop penghinaan pada perempuan.. Karena perempuan ada ibu dari generasi masa depan…Perempuan harus dimuliakan… Selayaknya kita memuliakan ibu kita…..

Catatan kecil disebuah sore….

Posted from WordPress for BlackBerry.

Pancasila Mati Pasca Reformasi

Produk akhir dalam proses reformasi 1998 adalah semakin carut marutnya tata pemerintahan Indonesia. Amandemen UUD menjadi pintu masuk membuat hancurnya bangunan pemerintah Negara Indonesia sesuai semagat Proklamasi 17 agustus 1945.

Semangat awal rakyat dengan adanya reformasi adalah semakin sejahteranya masyarakat dan bangsa Indonesia, ternyata tidak menunjukkan indikasinya kecuali semakin liberalnya system demokrasi dan ekonomi Indonesia. Sejarah kebangsaan Indonesia adalah : Baca lebih lanjut

Pemimpin Indonesia ke Depan Harus Memahami Cita-cita Proklamasi!

RMOL. Indonesia membutuhkan kepemimpinan nasional yang kuat secara politik, pemerintahan dan media. Dan hal yang lebih utama lagi, pemimpin tersebut harus memahami cita-cita Proklamasi 17 Agustus 1945 serta memiliki benang merah cita-cita para pendiri bangsa.

“Pemimpin Indonesia ke depan mutlak mengenal amanat penderitaan rakyat sebaik-baiknya. Tidak hanya sekedar di kenal atau populer karena digarap atau ditokohkan oleh lembaga pembentuk citra yang sarat dengan kepentingan komersial,” kata Dewan Pembina Aliansi Nasionalis Indonesia(Anindo), Hadidjojo Nitimihardjo, beberapa saat lalu (Jumat, 31/5). Baca lebih lanjut

GOLPUT itu kini Komersial

Dalam pemilihan langsung presiden dan juga legilatif proporsionla terbuka hasil reformasi , telah mengahasilkan gerakan gerakan yang cenderung mendorong lahirnya fragmatisme pemilih dalam pemilu.

Slogan “kami butuh bukti bukan janji” dalam sekilas kita mungkin kita berasumsi adanya kesadaran politik positif dari para pemilih. Kita boleh saja berasumsi ketika melihat slogan itu, diartikan masyarakat pemilih akan menilai dengan baik tentang rekam jejak sang tokoh dan kemudian menilai kinerja sebagai buktinya.

Dan adalah hal juga ketika pemahamannya adalah jadi berbeda 180 derajat, “Kalo anda menjajikan kesejahteraan kami, kami tidak butuh, kami butuh bukti anda sekarang memberikan janji mensejahterakan, kami butuh anda beri kesejahteraan (bantuan / uang) sekarang, bukan setelah anda jadi”

Slogan mari kita lawan kobobrokan politik dengan GOLPUT, ketika dipahami bahwa GOLPUT adalah Golongan Putih tidak memilih, mungkin kita bisa melihat sebuah perlawanan rakyat dengan rendahnya tingkat partisipasi masyarakat dalam politik.

Tapi adalah hak pemilih yang kemudian menjadi kewajaran dari proses pembelajaran kapitalistik ketika GOLPUT dimaknai sebagai “Golongan Pemungut Uang Tunai”. Jadi Golput kemudian berakhir dengan “no money no vote”, sungguh kita sedang menghambakan diri pada uang.